
Apa itu pertanyaan penelitian?
Pertanyaan penelitian merupakan pertanyaan eksplisit tentang sesuatu yang ingin diketahui oleh peneliti. Pertanyaan penelitian dirumuskan dari pokok permasalahan yang hendak diteliti. Selain itu, pertanyaan penelitian juga menentukan tujuan penelitian dan metode yang akan digunakan. Jika dibaratkan, pertanyaan penelitian adalah kompas karena menentukan arah penelitian
Secara sederhana, pertanyaan dalam penelitian adalah sebuah pertanyaan yang menjelaskan topik yang ingin diketahui secara detail oleh seorang peneliti. Jawaban dari pertanyaan ini tidak sebatas pada “iya” dan “tidak” atau “salah” dan “benar”. Melainkan diikuti oleh pernyataan yang menjelaskan secara rinci dari topik penelitian tersebut. Misalnya, bisa menjelaskan sebab suatu fenomena dan menjelaskan bagaimana meminimalkan maupun mengatasi dampak negatif fenomena tersebut secara ilmiah.
Inilah alasan, kenapa pertanyaan penelitian atau research question sering disebut sebagai kompas dalam penelitian. Sebab pertanyaan penelitian akan menjadi penentu arah dari suatu kegiatan penelitian. Pertanyaan ini yang kemudian menjadi modal awal peneliti sebelum mulai melakukan penelitian bahkan sebelum mulai menyusun proposal penelitian.
Jenis-Jenis Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan dalam penelitian kemudian memiliki jenis yang beragam dan biasanya mengikuti jenis penelitian itu sendiri. Secara umum, pertanyaan dalam penelitian terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:
- Pertanyaan penelitian kualitatif
Pada dasarnya, terdapat perbedaan rumusan pertanyaan penelitian pada riset kualitatif dan kuantitatif. Rumusan penelitian pada riset kualitatif bersifat fleksibel karena hakikat metodologinya yang bertujuan untuk memahami atau memaknai suatu fenomena. Umumnya, penelitian kualitatif hendak menjawab pertanyaan yang diawali “apa” atau “bagaimana". Dalam riset kualitatif, peneliti dimungkinkan untuk merevisi atau menyesuaikan rumusan pertanyaan penelitian. - Pertanyaan penelitian kuantitatif
Berbeda dari penelitian kualitatif, pertanyaan penelitian dalam studi kuantitatif bersifat precise atau “tepat”, artinya wajib dirumuskan dengan saksama dan tidak dapat direvisi di tengah penelitian berlangsung. Ini disebabkan hakikat metodologi kuantitatif yang bertujuan melakukan pengukuran. Dengan kata lain, ketepatan rumusan pertanyaan kuantitatif tidak dapat dinegosiasi. Pertanyaan penelitian kuantitatif yang baik akan menyebutkan populasi serta variabel dependen dan independen yang hendak diukur. Kata yang lazim digunakan dalam pertanyaan penelitian kuantitatif meliputi: “pengaruh”, “tingkat”, “perbandingan”, dan “hubungan”. - Pertanyaan penelitian mixed-method
Mixed-method kuantitatif. adalah gabungan antara penelitian kualitatif dan Pada penelitian mixed-method, pertanyaan penelitiannya memerlukan rangkaian pertanyaan kuantitatif dan kualitatif. Pertanyaan tersebut dapat dikembangkan ke dalam satu pertanyaan penelitian atau pun secara terpisah, tetapi memiliki keterkaitan antara pertanyaan kuantitatif dan kualitatif.
Cara Membuat Pertanyaan Penelitian
Setelah memahami apa itu pertanyaan penelitian dan perbedaannya dengan rumusan masalah, Anda perlu memahami juga bagaimana membuat atau merumuskan pertanyaan dalam penelitian tersebut. Metode FINER (Feasible, Interesting, Novelty, Ethical, dan Relevant) dapat Anda gunakan untuk membantu menentukan pertanyaan dalam penelitian Anda.
Berikut penjelasan metode FINER untuk membuat pertanyaan penelitian:
- Feasible
Melakukan feasible yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti “layak”. Artinya, tahap pertama yang harus dilakukan adalah menguji kelayakan suatu masalah untuk diteliti. Ketika memperhatikan lingkungan sekitar, Anda dijamin akan menemukan banyak fenomena yang menjadi masalah untuk dipecahkan. Semua masalah bisa diteliti untuk dicari penjelasannya, penyebabnya, dan solusi atas dampak yang ditimbulkan. Namun, dari jutaan masalah tersebut tidak semua benar-benar layak atau bisa diteliti. Kenapa? Sebab, kegiatan penelitian berhadapan dengan beberapa hambatan dan bisa disebut keterbatasan. Maka perlu dilakukan uji kelayakan terlebih dahulu. Cara paling sederhana melakukan uji kelayakan suatu fenomena bisa diteliti atau tidak adalah dengan melihat ada tidaknya tenaga, waktu, dan dana atau biaya. Jika fenomena tersebut bisa diteliti karena didukung waktu, tenaga, dan biaya, artinya fenomena tersebut layak untuk diteliti. Begitu pula sebaliknya. Jika Anda dosen dan ingin membangun rekam jejak penelitian, salah satu aspek untuk menentukan kelayakan fenomena yang diteliti adalah relevansinya dengan bidang keilmuan yang ditekuni. - Interesting
Memastikan suatu fenomena bisa disebut interesting atau menarik. Menarik disini, tentu memiliki penjabaran yang lebih kompleks. Paling sederhana, fenomena tersebut memang menarik perhatian dan keingintahuan banyak orang. Terutama peneliti sendiri. Jika suatu fenomena tidak menggelitik rasa penasaran Anda, artinya daya tariknya rendah sehingga kurang tepat untuk diteliti. Begitu pula jika sebaliknya. Tak hanya memperhatikan selera dan opini peneliti secara personal. Peneliti tersebut juga harus menilai apakah fenomena tersebut menarik bagi banyak orang, bagi pembaca hasil publikasi ilmiahnya, bagi penyedia dana penelitian, dan sebagainya. Inilah alasan kenapa dalam program hibah, rata-rata proposal usulan yang lolos seleksi adalah mampu menunjukan topik penelitian yang menarik. Semakin menarik perhatian, punya keunikan, dan semacamnya, maka topik dipandang lebih layak didanai. - Novelty
Novelty atau ada kebaruan dari pertanyaan tersebut. Secara sederhana, pertanyaan dalam penelitian harus memiliki keunikan. Sehingga tidak sama persis dengan penelitian lain, terutama penelitian sebelumnya. Mengusung topik penelitian yang benar-benar baru memang memberi jaminan mendapatkan novelty secara otomatis. Namun, meneliti topik baru juga tidak selalu menjadi perkara mudah. Seringkali terbentur dengan referensi, teknologi, sampai dana. Maka, banyak peneliti mencari pertanyaan dalam penelitian yang bisa melengkapi pertanyaan dari penelitian terdahulu. Bahkan pertanyaan ini, bisa juga memiliki kemampuan menjawab pertanyaan dari penelitian terdahulu yang belum terjawab. - Ethical
Ethical yang artinya harus mematuhi dan sesuai dengan etika penelitian. Sehingga pertanyaan tersebut tidak ada indikasi memicu pelanggaran etika penelitian. Pada prosesnya, peneliti harus mengajukan proposal usulan dan ditinjau oleh pihak berwenang. Misalnya pada mahasiswa, maka proposal akan ditinjau oleh dosen pembimbing atau dosen lain yang diberi tugas melakukan peninjauan. Salah satu tujuan peninjauan ini adalah memastikan pertanyaan dalam penelitian tidak melanggar etika. Hal ini juga yang menjadikan penelitian tersebut bisa disebut layak untuk dieksekusi. - Relevant
Relevant, dalam artian memiliki dampak. Sehingga pertanyaan ini ketika dijalankan dalam penelitian akan memberi hasil yang memang bermanfaat. Misalnya memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, perkembangan teknologi di suatu bidang seperti pertanian atau bidang lain, dan memiliki potensi untuk dikembangkan oleh peneliti lain di masa mendatang. Istilah relevant disini juga mengacu pada kesesuaian topik penelitian dengan bidang yang ditekuni. Seseorang tidak bisa sembarangan melakukan penelitian jika tidak menekuni suatu bidang dna menjadi pakar di dalamnya. Maka topik yang diteliti seharusnya sesuai dengan bidang keahlian. Adapun tata cara menentukan atau menyusun pertanyaan dalam penelitian yang dijelaskan merupakan salah satu metode. Tentunya masih banyak metode lain yang bisa digunakan peneliti untuk menyusun pertanyaan dalam penelitian yang akan dilakukan.